Cari

senja hampir habis

menyeduh tanpa mendidih. berbekal kemurahan hati matahari

SuperKatak Menyelamatkan Tokyo*

Katagiri menemukan seekor katak raksasa tengah menunggunya di apartemen. Sangat perkasa, berdiri setinggi lebih dari 1,8 meter. Laki-laki kurus biasa tidak akan lebih dari 1,6 meter, Katagiri kewalahan.

“Panggil aku ‘Katak’,” ujar si katak lugas, bersuara keras.

Katagiri berdiri di jalan menuju pintu, tak mampu berkata-kata. Continue reading “SuperKatak Menyelamatkan Tokyo*”

Saya diam saja.

Ibumu itu yang selalu bikin saya teringat adalah sambalnya. Enak sekali. Saya dulu waktu mahasiswa pernah ‘catering’ padanya.

Sambal yang benar-benar biasa. Sebelum ditumbuk, bawang dan cabai digoreng terlebih dahulu.

*

Apa yang akan kau lakukan jika seorang perempuan yang meskipun telah berusia tujuh puluh masih memiliki perasaan menggebu pada seorang laki-laki—yang baru saja kau temui.

Akankah kau ceritakan rupa laki-laki itu kemarin?

Akankah kau ceritakan kabar laki-laki itu belakangan? Kegiatan sehari-hari laki-laki itu barangkali?

Akankah kau jawab bahwa laki-laki itu menanyakan kabarnya? Ceritacerita tentangnya yang kamu ceritakan pada laki-laki itu, kamu ceritakan kembali mungkin?

*

Tak ada yang lebih menggelisahkan dari melihat kegelisahan ibumu sendiri.

Berkarya Tanpa Dendam*

04

Malam, 13 Oktober 1965. sebuah rumah di kawasan Rawamangun, Jakarta dilempari dengan batu oleh segerombolan orang.

“Mau diapakan rumah saya?”  Pramoedya Ananta Toer, penghuni rumah itu keluar. “Kalau mau bicara sama saya, ayo bicara. Bukan begini caranya.” Continue reading “Berkarya Tanpa Dendam*”

Kabar

KABAR—usai kebaktian, seorang kawannya menghampiri. Menyapa sembari memarahi karena ketidakhadirannya pada sebuah momen penting di minggu lalu. Jenderal bintang sembilan meninggal. Namun menurut si kawan, ia tak bisa dihubungi. Telepon tidak nyambung. Kirim pesan pun tidak bisa. Ia mendengar sambil diam. Tetapi sorot matanya terkejut. Lalu, tanyanya, apakah jenderal sudah dimakamkan? Si kawan menjawab, “Tentu saja, meninggalnya kan minggu lalu!” Continue reading “Kabar”

; [titik koma]

20160112_144458-1

akhir minggu kemarin saya menghabiskan tiga film: Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring; The Journey dan The Intern. Ketiganya, entah bagaimana, mencetuskan kalimat dalam benak bahwa kadang dalam hidup, kita cuma butuh seorang kakek yang diam saja. mendengar dan melihat. di ujung yang kita sadari. untuk sekadar menjadi orang lain. cuma untuk meyakinkan kita pada situasi buruk sekalipun, masih ada sebuah kehidupan yang layak kita pelihara.

hidup yang terlalu buruk kadang membuat kita ingin pergi saja.

tapi Tony Bennet bilang, “Life teaches you how to live it, if you live long enough”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 1.005 pengikut lainnya