Katagiri menemukan seekor katak raksasa tengah menunggunya di apartemen. Sangat perkasa, berdiri setinggi lebih dari 1,8 meter. Laki-laki kurus biasa tidak akan lebih dari 1,6 meter, Katagiri kewalahan.

“Panggil aku ‘Katak’,” ujar si katak lugas, bersuara keras.

Katagiri berdiri di jalan menuju pintu, tak mampu berkata-kata.

“Jangan takut. Aku tak akan menyakitimu. Masuk dan tutuplah pintu. Ayo.”

Dengan tas kerja di tangan kanannya, tas belanja berisi sayuran segar dan kaleng salmon dikempit lengan kiri, Katagiri tidak berani bergerak.

“Ayo, Pak Katagiri, lekas tutup pintu dan copot sepatumu.”

Mendengar namanya disebut, ia kalap. Ia menutup pintu sesuai perintah, meletakkan tas belanjaan pada lantai kayu, mengempit tas kerja pada satu lengan dan melepas sepatunya. Si Katak mengisyaratkanya untuk duduk di meja dapur seperti yang dilakukan.

“Aku harus minta maaf, Pak Katagiri karena menerobos masuk saat kau ke luar,” kata Katak. “Aku tau ini akan mengejutkanmu. Tapi aku tak punya pilihan lain. Mau secangkir teh? Aku kira kau akan pulang lebih cepat, jadi aku tadi menjerang air.”

Katagiri tetap mengempit tas kerjanya. Pasti ada yang sedang ngerjain aku, pikirnya. Tapi ia tahu, saat melihat Katak menuang air mendidih ke teko sembari bergumam, gerakan tubuhnya benar-benar seperti katak betulan. Katak menyiapkan secangkir teh hijau di depan Katagiri dan menuangkan yang lain untuk dirinya.

Menyesap tehnya, Katak bertanya, “lebih santai?”

Tapi Katagiri tetap tak mampu berkata-kata.

“Aku tau, seharusnya aku membuat janji dulu untuk mengunjungimu Pak Katagiri. Aku sangat sadar. Setiap orang tentu akan terkejut menemukan katak raksasa menunggunya di rumah. Tapi ada hal darurat yang membuatku ke sini. Aku mohon maaf.”

“Hal darurat?” Katagiri mengatur kata-kata yang keluar dari mulutnya.

“Tentu saja,” kata Katak. “Apalagi yang dapat membuatku berani menerobos rumah seseorang? Semacam bukan gayaku.”

“Apakah sesuatu itu ada hubugannya denganku?”

“Ya dan tidak.” Kata Katak sambil menggeleng. “Tidak dan ya.”

Aku perlu waktu, pikir Katagiri. “Kau keberatan jika aku merokok?”

“Tidak sama sekali, sama sekali tidak,” Katak berkata sambil tersenyum. “Ini rumahmu. Kau tak perlu meminta izinku. Rokok dan minumlah sesukamu. Aku sendiri bukanlah perokok, tapi aku dapat menerima ketidaksukaanku terhadap tembakau seseorang di rumahnya sendiri.”

Katagiri menarik bungkus rokok dari saku mantelnya dan menyalakan korek api. Ia melihat tangannya gemetar. Duduk di depannya, Katak nampak mempelajari setiap gerakannya.

“Kau tak ada hubungannya dengan gangster manapun ya?” Katagiri menemukan hal yang dapat dibahas.

“Ha ha ha ha ha ha! Selera humormu sangat tinggi Pak Katagiri!” Katak berkata sembari mengusapkan tangan berselaput pada pahanya. “Ada begitu banyak pekerja terampil, tapi gangster apa yang akan merekrut seekor katak untuk melakukan pekerjaan kotor mereka? Mereka akan jadi bahan tertawaan.”

“Ya, jika kau ke sini untuk menegosiasikan gaji, kau buang-buang waktu saja. Aku tak punya kuasa untuk mengambil putusan semacam itu. Cuma bosku yang bisa melakukannya, aku hanya menuruti perintahnya. Aku tak dapat melakukan apa-apa untukmu.”

“Tolong, Pak Katagiri,” kata Katak, mengangkat satu jari berselaput. “Aku ke sini bukan untuk urusan recehan semacam itu. Aku sangat sadar bahwa kau adalah Asisten Kepala dari Divisi Utang-Piutang Tokyo Security Trust Bank Cabang Shinjuku. Tapi kedatanganku tidak ada hubungannya dengan pembayaran pinjaman. Aku ke sini untuk menyelamatkan Tokyo dari kehancuran.”

Katagiri memindai ruangan kalau-kalau ada semacam kamera televisi tersembunyi yang membuatnya menjadi objek lelucon. Tapi tak ada kamera. Ini adalah sebuah apartemen kecil. Tidak ada tempat untuk siapapun dapat bersembunyi.

“Tidak,” kata Katak. “Hanya kita yang ada di sini. Aku tahu kau memikirkan bahwa aku ini gila atau kau semacam sedang bermimpi, tapi aku tidak gila dan kau tidak sedang bermimpi. Ini benar-benar serius.”

“Untuk mengatakan yang sebenarnya, Pak.. Katak–.”

“Tolong”, kata Katak sambil mengangkat satu jari selaputnya lagi. “Panggil aku Katak.”

“Untuk mengatakan yang sebenarnya, Katak,” Katagiri berkata, “Aku tak dapat mengerti apa yang terjadi di sini. Ini bukan karena aku tidak percaya padamu, tapi aku tidak pernah berada di situasi seperti ini. Apakah kau keberatan jika aku menanyakan satu atau dua hal?”

“Tidak sama sekali, sama sekali tidak,” kata Katak. “Saling memahami adalah hal yang sangat penting. Ada yang mengatakan bahwa ‘pemahaman’ hanyalah jumlah total kesalahpahaman, sementara aku menemukan cara pandangan lain, aku takut kita tak punya waktu untuk kesalahan-kesalahan yang menyenangkan. Yang terbaik adalah kita mencapai kesalingpahaman dengan cara sesingkat mungkin. Dengan demikian, melalui cara menanyakan banyak seperti yang kau inginkan.”

“Sekarang; Kau adalah katak betulan?”

“Ya, tentu saja seperti dapat kau lihat. Katak betulan, itulah aku. Sebuah produk yang bukan metafora, kiasan, dekonstruksi, atau sampel, atau apapun dari proses yang kompleks, aku katak asli. Haruskah aku menguak untuk mu?”

Katak menggoyangkan belakang kepalanya dan meregangkan otot-otot tenggorokan dan menguak Ribit, Ri-i-i-bit, Ribit ribit ribit Ribit Ribit Ri-i-i-bit. Kuakan besarnya menggetarkan bingkai-bingkai yang menggantung pada dinding.

“Ah, baiklah, baiklah!” Katagiri berkata, khawatir akan dinding tipis apartemen murah tempat tinggalnya. “Luar biasa. Kau, tak terbantahkan lagi, merupakan seeokor katak.”

“Seseorang juga mengatakan aku adalah jumlah total dari seluruh katak. Tapi itu tidak mengubah fakta bahwa aku adalah seekor katak. Kalau ada yang mengatakan bahwa aku bukan katak, tentu ia seorang pembohong besar. Aku dapat menghancurkan orang semacam itu hingga berkeping-keping!”

Katagiri mengangguk. Berharap dapat menenangkan diri, ia mengambil cangkirnya dan meneguk teh. “Tadi kau katakan bahwa kedatanganmu ke sini adalah untuk menyelamatkan Tokyo dari kehancuran?”

“Itulah yang kukatakan.”

“Kehancuran macam apa?”

“Gempa bumi,” kata Katak dengan suara berat.

Mulut membuka, Katagiri menatap Katak. Dan Katak, tak mengatakan apa-apa, menatap Katagiri. Mereka saling lihat beberapa saat. Selanjutnya giliran Katak membuka mulut.

“Sebuah gempa bumi yang sangat, sangat besar. Terjadi di Tokyo pada 8.30 pagi, 18 Februari. Tiga hari dari sekarang. Gempa bumi yang lebih besar menimpa Kobe bulan lalu. Jumlah korban diperkirakan lebih dari 150.000 orang—kebanyakan karena kecelakaan sistem komuter: anjlok dari rel, kejatuhan kendaraan, tabrakan, runtuhnya lift cepat dan jalur rel, hancurnya jalur bus, meledaknya truk tangki. Gedung-gedung berubah menjadi tumpukan puing, penghuninya tertimpa reruntuhan. Kebakaran di mana-mana, sistem jalan raya terputus, ambulans dan truk pemadam kebakaran tidak berguna, orang-orang hanya berbaring, sekarat. Seratus lima puluh ribu jumlah mereka! Benar-benar neraka. Orang-orang akan dibuat sadar mengenai kondisi rapuh dari sesuatu yang dikenal sebagai ‘kota’. Katak mengatakannya dengan gerakan lamat-lamat. “Pusat gempa akan dekat dengan kawasan perkantoran Shinjuku.”

“Dekat kawasan perkantoran Shinjuku?”

“Tepatnya, gempa akan menghantam langsung bagian bawah Tokyo Security Trust Bank Cabang Shinjuku.”

Sejenak terjadi keheningan.

“Dan kau,” Katagiri berkata, “berencana menghentikan gempa ini?”

“Tepat sekali” Katak mengangguk. “Itulah tepatnya yang akan kulakukan. Kau dan aku akan pergi ke bawah tanah Tokyo Security Trust Bank Cabang Shinjuku untuk berperang melawan Cacing.”

***

Sebagai bagian dari Divisi Utang Piutang Trust Bank, Katagiri telah melewati banyak perang. Ia telah lapuk diterpa perang setiap hari selama enam belas tahun sejak ia lulus dari universitas dan bergabung sebagai staf bank. Ia, dengan kata lain, merupakan petugas penagih—tempat yang membuatnya sedikit terkenal. Setiap orang di divisinya cenderung mengambil pinjaman, terutama saat terjadi gelembung ekonomi. Mereka memiliki begitu banyak uang pada hari-hari itu yang hampir semuanya merupakan jaminan—baik itu tanah atau pun saham—cukup untuk meyakinkan petugas pinjaman memberikan apapun yang mereka minta, makin besar pinjaman, makin baik reputasi mereka di mata perushaaan. Beberapa pinjaman, tidak pernah kembali pada bank: “mengerak di dasar panci.” Tugas Katagirilah mengurusi itu semua. Dan ketika gelembung pecah,  pekerjaan menumpuk. Satu saham jatuh harganya, kemudian diikuti nilai tanah mereka, dan merembet pada kerugian besar lainnya. “Keluar,” perintah bos padanya, “dan peras apapun yang bisa kau dapat dari mereka.”

Wilayah Kabukicho di Shinjuku merupakan labirin kekerasan: gangster legendaris, mafia Korea, mafia Cina, senjata api dan obat-obatan, uang mengalir di bawah permukaan dari sarang yang suram ke yang lain, orang-orang hilang setiap saat seperti gumpalan asap. Terjun ke Kabukicho untuk menagih hutang macet, Katagiri dikepung oleh mafia yang mengancam nyawa, tapi ia tak pernah takut. Apa untungnya bagi mereka untuk membunuh orang bank? Mereka bisa saja menikamnya jika mereka mau. Mereka bisa memukulinya. Ia sangat sempurna untuk pekerjaan ini: tak punya istri, tak punya anak, bahkan kedua orang tua pun sudah meninggal, saudara-saudaranya telah menikah. Jadi apa yang terjadi jika mereka membunuhnya? Itu tidak akan mengubah apapun—setidaknya bagi Katagiri sendiri.

Bukan Katagiri, tapi bajingan-bajingan di sekelilingnya yang cemas saat melihat ia begitu tenang dan dingin. Ia segera memperoleh reputasi semacam itu di dunia keras para preman. Sekarang, sungguh, si kuat Katagiri kalah total. Kesialan apa pula yang dibicarakan Katak?

“Cacing? Siapa itu Cacing?” ia bertanya dengan keragu-raguan.

“Cacing hidup di bawah tanah. Ia adalah cacing raksasa. Saat ia marah, ia menyebabkan gempa bumi,” kata Katak. “Dan sekarang ia sangat, sangat marah.”

“Dia marah kenapa?” tanya Katagiri.

“Aku tak tahu,” Katak berkata. “Tak seorang pun tahu apa yang dipikirkan Cacing dalam kepala suramnya itu. Sedikit yang pernah melihatnya. Ia biasanya tertidur. Itulah yang benar-benar ia suka: tidur dengan sangat sangat lama. Ia tidur selama bertahun-tahun—puluhan—di bawah tanah yang hangat dan gelap. Matanya, bisa kau bayangkan, mengalami pembusukan atropia, otaknya berubah menjadi jeli saat ia tidur. Jika kau tanya aku, aku rasa ia seharusnya tak memikirkan apapun, berbaring saja di sana dan merasakan setiap gemuruh kecil dan dengung, menyerap ke dalam tubuh dan menyimpannya. Kemudian, melalui semacam proses kimia, ia mengganti semuanya dengan kemarahan. Mengapa hal ini terjadi aku tidak tahu. Aku tak bisa menjelaskannya.”

Katak terdiam melihat Katagiri dan menunggu sampai kata-katanya tenggelam. Kemudian ia melanjutkan: “Tolong jangan salah paham. Aku merasa tidak ada masalah pribadi dengan Cacing. Aku tak melihatnya sebagai jelmaan iblis. Tidak juga aku ingin jadi temannya: Aku hanya berpikir sejauh dunia ini ada, maka bisa saja dia ada. Dunia ini seperti mantel yang sangat besar, dan membutuhkan berbagai bentuk dan ukuran saku. Pada suatu waktu, Cacing mencapai titik paling berbahaya untuk diabaikan. Dengan segala kebencian yang telah ia serap dan simpan dalam tubuhnya selama bertahun-tahun, jantung dan tubuhnya membengkak hingga ukuran raksasa—lebih besar dari yang pernah ada. Lebih parahnya, gempa bumi Kobe bulan lalu mengejutkannya dari tidur nyenyak yang tengah ia nikmati. Ia mendapat wahyu dari kemarahan yang mendalam: tiba saatnya untuk menyebabkan gempa bumi masif juga, dan ia akan melakukannya di sini, di Tokyo. Aku tahu apa yang kubicarakan, Pak Katagiri: aku telah mendapat informasi terpercaya mengenai waktu dan skala gempa bumi dari beberapa teman serangga terbaikku.”

Katak mengatupkan mulutnya secara tiba-tiba dan dari matanya terlihat kelelahan.

“Jadi yang kau maksud adalah,” kata Katagiri, “bahwa kau bersama aku harus pergi ke bawah tanah dan melawan Cacing untuk menghentikan gempa bumi.”

“Persis.”

Katagiri meraih cangkir teh, mengambilnya dan meletakkannya kembali. “Aku masih tak mengerti,” katanya. “Mengapa kau memilihku untuk menemanimu?”

Katak menatap langsung ke mata Katagiri dan berkata “Aku selalu punya rasa hormat padamu, Pak Katagiri. Selama enam belas tahun yang panjang, kau telah diam-diam menerima tugas-tugas yang paling berbahaya—pekerjaan yang orang lain hindari—dan kau telah mengerjakannya dengan baik. Aku tau benar betapa sulitnya itu buatmu, dan aku tak percaya bahwa baik bos atau kolegamu yang benar-benar menghargai tugas yang telah kau selesaikan. Mereka itu buta, banyak dari antara mereka. Tapi, kau, walau tak dihargai dan tak mendapat promosi, tak pernah mengeluh.

“Pekerjaanmu tidaklah sederhana. Setelah orang tuamu meninggal, kau membesarkan adik laki-laki dan perempuanmu dengan baik, mengirim mereka kuliah dan bahkan mengatur pernikahan mereka, mengorbankan seluruh waktu dan penghasilan, dan menghabiskan peluang pernikahanmu sendiri. Dalam hal ini, saudara laki-laki dan perempuanmu tak pernah menunjukkan rasa terima kasih pada segala upayamu untuk mereka. Jauh dari itu. Mereka tidak menghargai dan berlaku tak berperasaan dengan mengabaikan kasih sayang dan kebaikanmu. Menurut pendapatku, mereka melakukannya dengan tidak sadar. Aku hampir berharap aku dapat memukuli mereka menjadi bubur di sampingmu. Tapi kau, sementara itu, tak menunjukkan rasa marah.

“Sejujurnya, Pak Katagiri, kau tak terlalu terlihat, dan kau jauh dari memiliki kemampuan bicara, jadi kau cenderung dipandang rendah oleh orang-orang sekitarmu. Aku, bagaimanapun, dapat melihat betapa kau adalah laki-laki yang bijaksana dan berani. Di seluruh Tokyo, dengan penduduk yang berjuta-juta, tidak ada orang lain sepertimu yang dapat kupercaya untuk dapat berperang melawan bersamaku.”

“Katakan, Pak Katak,” Katagiri berkata.

“Tolong,” Katak berkata, mengacungkan jarinya lagi. “Panggil aku ‘Katak’.”

“Katakan padaku, Katak,” Katagiri berkata, “Bagaimana kau mengetaui banyak hal tentangku?”

“Pak Katagiri, aku tidak menjadi katak sepanjang tahun tanpa tujuan. Aku mengawasi hal-hal penting dalam kehidupan.”

“Tapi tetap, Katak,” kata Katagiri. “Aku tidaklah kuat, dan aku tak tahu apa yang terjadi di bawah tanah. Dan aku tak punya otot yang mampu mengalahkan Cacing dalam kegelapan. Aku yakin kau dapat menemukan orang lain yang jauh lebih kuat dariku—seorang laki-laki jagoan karate, barangkali atau komandan Angkatan Bela Diri.”

Katak memutar mata besarnya. “Sebenarnya, Pak Katagiri,” ia berkata, “Akulah yang akan melakukan pertempuran. Tapi aku tak dapat melakukannya seorang diri. Ini kuncinya: aku perlu keberanian dan semangatmu akan keadilan. Aku memerlukanmu berdiri di sampingku, “Ke sana, Katak! Kau hebat! Aku tau kau akan menang! Kau bergumul begitu hebat!”

Katak membuka lebar lengannya, dan mengentak tangan berselaputnya pada lutut lagi.

“Sejujurnya, Pak Katagiri, pemikiran melawan Cacing dalam kegelapan menakutkanku juga. Bertahun-tahun aku hidup sebagai seorang pasifis, seni mencintai, hidup dengan alam. Perlawanan bukanlah hal yang senang kulakukan. Aku melakukannya karena aku harus melakukannya. Dan pertempuran penting ini akan menjadi pertempuran yang sengit, itu pasti. Aku mungkin tak kembali dalam keadaan hidup. Aku mungkin kehilangan salah satu atau dua dari anggota tubuhku dalam prosesnya. Tapi aku tak bisa—aku tak akan lari. Seperti dikatakan Nietzche, kebijaksanaan paling tinggi adalah tidak memiliki rasa takut. Apa yang kuinginkan dari mu, Pak Katagiri, adalah agar kau membagi keberanian sederhanamu padaku, mendukungku dengan sepenuh hati sebagai seorang teman sejati. Apa kau mengerti apa yang kukatakan padamu?”

Tidak ada yang masuk akal bagi Katagiri, tapi ia tetap merasa—setidak-masuk-akalnya itu terdengar—ia dapat mempercayai yang dikatakan Katak. Sesuatu tentang Katak—terlihat dari wajahnya, cara bicaranya—memiliki kesederhanaan kejujuran yang menarik langsung ke hati. Setelah bertahun-tahun bekerja pada divisi paling sulit di Security Trust Bank, Katagiri memiliki kemampuan untuk merasakannya. Itu telah menjadi alam keduanya.

“Aku tahu ini pasti sulit untukmu, Pak Katagiri. Seekor katak besar datang menerobos masuk rumahmu dan meminta untuk percaya semua hal aneh. Reaksimu sangat wajar. Dan aku bermaksud untuk menyediakan mu bukti bahwa aku ada. Katakan padaku, Pak Katagiri: kau mengurusi masalah pinjaman Big Bear Trading kan?”

“Betul,” Katagiri menjawab.

“Mereka telah melakukan penghisapan kerja di balik layar, dan orang-orang itu bercampur dengan para kriminil. Mereka berencana jahat membuat perusahaan bankrut dan mengemplang hutangnya. Petugas pinjaman bankmu mengucurkan dana tanpa pemeriksaan latar belakang dan seperti biasa, orang yang terisa untuk membersihkannya adalah kau, Pak Katagiri. Tapi kau mengalami masa-masa yang berat menenggelamkan gigimu pada orang-orang ini: mereka bukan lawan yang enteng. Dan mungkin ada politisi kuat yang mendukung mereka. Mereka mempertaruhkanmu untuk 700 juta. Itu situasi yang kau hadapi kan?”

“Kau benar.”

Katak meregangkan lengannya, jaring hijaunya yang besar terbuka seperti sayap. “Jangan takut, Pak Katagiri. Tinggalkan semuanya untukku. Mulai besok pagi, Katak tua akan mengatasi masalah-masalahmu. Santailah dan tidurlah yang nyenyak.”

Dengan senyum yang lebar, Katak berdiri. Lalu, memipihkan tubuhnya seperti cumi-cumi kering, menyelip pada celah pintu yang tertutup, meninggalkan Katagiri sendirian. Hanya dua cangkir teh di meja dapur yang menjadi jejak Katak pernah ada di apartemen Katagiri.

***

Saat Katagiri tiba di kantor keesokan paginya pada pukul sembilan, telepon di meja kerja berdering. “Tuan Katagiri,” suara seorang laki-laki. Dingin dan sepertinya urusan bisnis. “Nama saya Shiraoka, pengacara untuk kasus Big Bear. Saya menerima telepon dari klien saya terkait pengembalian pinjaman yang tertunda. Ia ingin Anda tau bahwa ia akan bertanggung jawab mengembalikan sesuai jumlah yang seharusnya, dengan tenggat waktu. Ia juga telah menandatangani memo. Ia hanya meminta agar Anda tak lagi mengirimkan Katak ke rumahnya lagi. Saya ulangi: Ia ingin Anda meminta Katak untuk tidak datang lagi ke rumahnya. Saya tidak paham maksud sebenarnya, tapi saya yakin itu jelas bagi Anda Tuan Katagiri. Benarkah saya?”

“Ya, benar.” Katagiri menjawab.

“Anda cukup baik untuk dapat menyampaikan pesan saya ini pada Katak, saya percaya.”

“Ya, itu akan saya lakukan. Klienmu tak akan melihat Katak lagi.”

“Terima kasih banyak. Saya akan menyiapkan memo untuk Anda esok.”

“Saya menghargainya,” kata Katagiri.

Sambungan terputus.

Katak mengunjugi Katagiri di kantor Trust Bank saat makan siang. “Aku kira kasus Big Bear lancar ya?”

Katagiri mengawasi sekilas sekeliling mereka.

“Tak usah khawatir,” kata Katak. “Hanya kau yang dapat melihatku. Tapi aku sekarang yakin kau menyadari bahwa aku benar-benar ada. Aku bukan sebuah produk imajinasimu. Aku dapat melakukan tindakan dan menghasilkan. Aku ini hidup.”

“Katakan padaku, Pak Katak,” kata Katagiri.

“Tolong,” Katak berkata, mengangkat satu jarinya, “panggil aku ‘Katak’.”

“Katakan padaku, Katak,” Katagiri berkata. “Apa yang kau lakukan pada mereka?”

“Tidak banyak,” kata Katak. “Tidak lebih rumit dari merebus kecambah Brussel. Aku hanya memberi mereka sedikit rasa takut. Sebuah teror psikologis. Seperti yang ditulis Joseph Conrad, teror yang sebenarnya adalah sejenis teror yang terasa merasuk pada imajinasi mereka. Tapi lupakan itu, Pak … Katagiri. Katakan padaku mengenai kasus Big Bear. Apakah betul-betul beres seperti dugaanku?”

Katagiri mengangguk dan menyalakan rokok. “Tampaknya begitu.”

“Lalu, aku berhasil mendapat kepercayaanmu terkait masalah yang kusampaikan semalam? Akankah kau menemaniku melawan Cacing?”

Menghela napas, Katagiri melepas kacamata dan membersihkannya. “Sebenarnya, aku tak terlalu gila untuk melakukan ide itu, tapi kurasa itu tak cukup untuk membuatku meninggalkannya.”

“Tidak,” kata Katak. “Ini masalah tanggung jawab dan kehormatan. Kau mungkin tak ‘terlalu gila’ tentang ide ini, tapi kita tak punya pilihan: kau dan aku harus ke bawah tanah dan menemui Cacing. Jika kita harus kehilangan nyawa kita, kita tak akan mendapat simpati siapapun. Dan jika kita dapat mengalahkan Cacing, tak ada yang akan memuja kita. Tidak ada yang tahu perang sengit macam apa yang ada di bawah kaki kita. Hanya kau dan aku yang tahu, Pak Katagiri. Bagaimanapun, perang kita akan menjadi perang yang sepi.”

Katagiri melihat tangannya sendiri sementara waktu, lalu melihat asap keluar dari rokoknya. Akhirnya ia berkata, “Kau Tau Pak Katak, aku hanya orang biasa.”

“’Katak’,” kata Katak, tapi Katagiri tak peduli.

“Aku benar-benar hanya orang biasa. Bahkan di bawah dari biasa. Aku mulai botak, gendut, berusia 40 pada akhir bulan lalu. Kakiku datar. Dokter baru mengatakan bahwa aku berpotensi diabetes. Sudah tiga bulan atau lebih aku tidur dengan seorang perempuan—yang aku bayar. Aku dikenal di divisi karena kemampuanku menagih pinjaman, tapi tidak benar-benar dihargai. Aku tak memiliki seorang pun yang menyukaiku, di pekerjaan atau di kehidupan pribadi. Aku tak tahu bagaimana bicara dengan orang, dan aku kesulitan dengan orang asing, sehingga aku tak pernah berteman. Aku tak memiliki kemampuan atletik, aku memiliki buta nada, pendek, kulit penisku sempit, rabun dekat—dan pengelihatanku kabur. Aku hidup menyedihkan. Apa yang dapat kulakukan adalah makan, tidur, dan buang air. Aku tak tahu bahkan mengapa aku hidup. Mengapa orang sepertiku harus menjadi penyelamat Tokyo?”

“Karena, Pak.. Katagiri, Tokyo hanya bisa diselamatkan oleh orang sepertimu. Dan untuk orang-orang sepertimu aku berusaha menyelamatkan Tokyo.”

Katagiri menghela napas lagi, lebih dalam kali ini. “Lalu apa yang kau inginkan dariku?”

***

Katak meceritakan rencananya pada Katagiri. Mereka akan pergi ke bawah tanah pada malam tanggal 17 Februari (satu hari sebelum gempa bumi yang diagendakan terjadi). Mereka akan melewati ruang uap bawah tanah yang ada pada Tokyo Security Trust Bank Cabang Shinjuku. Mereka akan bertemu di sana larut malam (Katagiri akan menetap di gedung dengan alasan lembur). Di balik dinding batas, terdapat ruang vertikal, dan mereka menemukan Cacing pada dasarnya dengan melewati tangga kawat sedalam 45 meter.

“Apakah kau punya strategi perang?” tanya Katagiri.

“Tentu saja. Kita tidak akan punya harapan kalau melawan musuh macam Cacing tanpa sebuah strategi perang. Ia adalah makhluk berlendir: Kau tak bisa membedakan mulut atau anusnya. Dan ia besar seperti kereta komuter.”

“Apa strategi perangmu?”

Setelah jeda berpikir Katak menjawab, “Hmm, apa yang mereka katakan—Diam itu emas?”

“Maksudmu aku harusnya tidak bertanya?”

“Itu salah satunya.”

“Apa yang terjadi jika aku takut pada menit-menit terakhir dan lari? Apa yang akan kau lakukan Tuan Katak?”

“Katak.”

“Katak. Apa yang akan kau lakukan?”

Katak berpikir sejenak dan menjawab, “Aku akan bertempur sendiri. Kesempatanku menghantam sendiri sepertinya lebih baik dari kesempatan Anna Karenina dalam menghantam lokomotif cepat. Apakah kau membaca Anna Karenina, Tuan.. Katagiri?”

Saat ia mendengar bahwa Katagiri belum membaca novel itu, Katak menunjukkan raut wajah seolah mengatakan “memalukan sekali.” Kelihatannya Katak sangat tergila-gila pada Anna Karenina.

“Tetap, Pak Katagiri, aku tak percaya kau akan meninggalkanku bertempur sendirian. Aku berani bilang. Ini merupakan pertanyaan gelembung yang—sayangnya, aku tak punya. Ha ha ha ha.” Katak tertawa dengan mulut lebarnya terbuka. Gelembung yang sama sekali tidak Katak miliki. Ia juga tak punya gigi.

***

Hal yang tak diharapkan terjadi.

Katagiri tertembak pada sore tanggal 17 Februari. Ia telah menyelesaikan babak harinya dan tengah berjalan di jalan di Shinjuku dalam perjalanan kembali ke Trust Bank saat seorang pria berjaket kulit melompat ke depannya. Wajah pria itu kosong, dan mencengkram senjata kecil berwarna hitam dengan satu tangan. Senjata itu sangat kecil dan sangat hitam sehingga sulit terlihat. Katagiri memandang benda pada tangan pria itu, tidak menyangka itu ditujukan padanya dan pria itu menarik pelatuk. Kejadiannya sangat cepat: tidak diduga olehnya. Tapi senjata itu, pada kenyataanya, mati.

Katagiri melihat tong terhentak di udara dan, pada saat bersamaan, terasa seperti seseorang menghantam bahu kanannya dengan palu godam. Ia tak merasakan sakit, tapi pukulan itu melemparkannya ke trotoar. Tas kulit pada tangan kanannya melayang ke arah lain. Pria itu membidikkan senjata padanya lagi. Tembakan kedua meletus. Papan penunjuk sebuah warung kecil di trotoar meledak dalam sekejap. Ia mendengar orang-orang berteriak. Kacamatanya terlepas dan segalanya menjadi buram. Ia samar-samar menyadari bahwa pria itu mendekati dengan pistol membidik ke arahnya. Aku akan mati, ia pikir. Katak telah mengatakan bahwa teror yang sesungguhnya semacam yang terasa merasuk dalam imajinasi.

Katagiri memutuskan imajinasinya dan tenggelam dalam keheningan yang ringan.

***

Saat ia bangun, ia ada di tempat tidur. Ia membuka satu mata, mengambil waktu untuk mengenali sekeliling dan membuka mata satu mata lagi. Hal pertama yang dilihatnya adalah tiang logam di bagian kepala tempat tidur dan sebuah tabung infus dari tiang mengarah ke tempatnya berbaring. Kemudian ia melihat perawat dengan pakaian putih. Ia sadar ia tengah berbaring terlentang pada tempat tidur keras dan mengenakan selembar kain yang membuatnya hampir telanjang.

Oh ya, ia berpikir, aku tengah berjalan di trotoar saat seorang pria menembakku. Mungkin di bahu kanan. Yang satu itu. Ia membentangkan adegan di kepala. Saat ia mengingat senjata hitam kecil pada tangan pria itu, jantungnya berdebar. Bajingan itu mencoba membunuhkan! Ia berpikir. Tapi nampaknya aku dapat melewati dengan baik-baik saja. Ingatanku baik. Aku tak merasakan sakit apapun. Dan bukan cuma kesakitan: aku tak merasakan apa-apa sama sekali. Aku tak dapat mengangkat lengan ku..

Ruang rawat itu tak memiliki jendela. Ia tak dapat mengatakan ini malam atau siang hari. Ia ditembak sebelum pukul lima sore. Berapa lama sejak saat itu? Apakah janji dengan Katak telah lewat? Katagiri mencari jam, tapi tanpa kacamata ia tak dapat melihat apa-apa.

“Permisi,” ia memanggil perawat.

“Wah, bagus. Anda akhirnya sadar,” suster berkata.

“Jam berapa ini?”

Ia melihat jamnya.

“Sembilan-limabelas”

“Malam?”

“Jangan bodoh, ini pagi!”

“Sembilan-limabelas pagi?” Katagiri mengaduh, merusaha mengangkat kepalanya dari bantal. Suara serak muncul dari kerongkongannya terdengar seperti milik orang lain. “Sembilan-limabelas pagi. Tanggal 18 Februari?”

“Betul,” kata perawat, menggerakkan lengannya lagi untuk memeriksa tanggal pada jam digital. “Hari ini tanggal 18 Februari 1995.”

“Apakah ada gempa bumi besar di Tokyo pagi ini?”

“Di Tokyo?”

“Di Tokyo.”

Sang perawat menggeleng. “Tidak setahuku.”

Ia menghela napas. Apapun yang terjadi, setidaknya gempa bumi dapat dicegah.

“Bagaimana aku bisa terluka?”

“Luka Anda?” ia bertanya. “Luka apa?”

“Saat aku tertembak.”

“Tertembak?”

“Ya, dekat jalan masuk Trust Bank. Seorang pria menembakku. Pada lengan kanan, kurasa.”

Perawat tersenyum gugup. “Maaf Tuan Katagiri, tapi Anda tidak tertembak.”

“Aku tidak tertembak? Apakah kau yakin?”

“Seyakin tak ada gempa bumi pagi ini.”

Katagiri tersadar. “Lalu untuk apa aku di rumah sakit?”

Seseorang menemukan Anda terbaring di jalan, tidak sadarkan diri. Pada wilayah Kabukicho di Shinjuku. Anda tidak menderita luka luar apapun. Anda hanya kedinginan. Dan kami belum mengetahui sebabnya. Dokter akan segera datang. Lebih baik Anda bicara padanya.”

Terbaring di jalan tak sadarkan diri? Katagiri yakin telah melihat pistol meletus, ditujukan padanya. Ia mengambil napas panjang dan mencoba meluruskan kepala. Ia mulai menyusun seluruh kejadian.

“Kau mengatakan aku terbaring di tempat tidur, tidak sadar, sejak sore kemarin kan?”

“Benar,” kata perawat. “Dan Anda benar-benar mengalami malam yang buruk Tuan Katagiri. Anda pasti bermimpi sangat buruk. Aku mendengar Anda berteriak, ‘Katak! Hei, Katak!’ Anda mengatakannya terus. Anda punya kawan yang dipanggil Katak?”

Katagiri menutup matanya dan mendengarkan launan lemah jantungnya pada menit-menit hidupnya. Berapa banyak yang ia dapat ingat yang benar-benar terjadi dan berapa yang halusinasi? Apakah Katak benar-benar ada, dan apakah Katak melawan Cacing untuk menghentikan gempa bumi? Atau itu hanya bagian dari mimpi yang panjang? Katagiri tak punya ide mengenai apa yang disebut kebenaran lagi.

***

Katak datang ke ruang rawatnya malam itu. Katagiri terbangun untuk mencarinya dalam lampu yang redup, duduk pada kursi lipat baja, punggungnya bersandar pada dinding. Kelopak mata Katak yang besar tertutup membentuk celah lurus.

“Katak,” Katagiri memanggilnya.

Katak perlahan membuka matanya. Perut putihnya yang besar membengkak dan mengempis saat bernapas. “Aku bermaksud menemuimu di ruang uap pada malam yang aku janjikan,” Katagiri berkata, “tapi Aku mengalami kecelakaan pada sorenya—sesuatu yang sama sekali tak terduga—dan mereka membawaku ke sini.”

Katak mengangguk pelan. “Aku tau. Tidak apa-apa. Jangan Khawatir. Kau telah menolong dalam pertempuranku,  Pak Katagiri.”

“Aku melakukannya?”

“Ya, kau melakukannya. Kau telah melakukan pekerjaan luar biasa dalam mimpimu. Itu yang membuat aku mungkin melawan Cacing hingga akhir. Terimakasih, karenamu aku menang.”

“Aku tak melakukannya,” kata Katagiri. “Aku tak sadar selama itu. Mereka menginfusku. Aku tak ingat apapun yang kulakukan dalam mimpiku.”

“Tidak ada soal, Pak Katagiri. Lebih baik kau tak ingat. Itu adalah pertempuran yang mengerikan dalam area imajinasi. Di sanalah lokasi persis pertempuran kita dan kita mengalami kemenangan dan kekalahan. Kita masing-masing memiliki batas waktu: kita semua jatuh kalah. Tapi seperti dikatakan Ernest Hemingway,  nilai utama hidup kita ditentukan tidak bagaimana kita menang, tapi bagaimana kita kalah. Kau dan aku bersama, Pak Katagiri, mampu mencegah kehancuran Tokyo. Kita menyelamatkan 150.000 orang dari kematian. Tidak ada yang menyadari, tapi itulah yang telah kita tunaikan.

“Bagaimana kita melawan Cacing? Dan apa yang aku lakukan?”

“Kita mencurahkan seluruhnya dalam pertempuran hingga titik darah penghabisan. Kita—“ Katak membuka lebar-lebar mulutnya dan mengambil napas. “Kita pakai semua senjata yang kita bisa, Pak Katagiri. Kita lakukan semuanya. Kegelapan adalah musuh kita. Kau membawa generator bertenaga kaki dan menggunakannya untuk menerangi tempat itu. Cacing mencoba melawanmu dengan ilusi kegelapan, tapi kau tetap berdiri. Kegelapan bersaing dengan cahaya dalam pertempuran yang mengerikan, dan dalam terang itu aku bergulat dengan Cacing yang mengerikan. Ia menggelungku dalam lendir yang mengerikan. Aku mencabiknya, tapi ia masih terus menolak untuk mati. Ia lalu membagi dirinya menjadi potongan kecil-kecil. Lalu…”

Katak terdiam senjenak seolah mengumpulkan kekuatan terakhirnya sebelum mulai bicara. “Fyodor Dostoyevsky, dengan kelembutan yang tak tertandingi, menggambarkan orang-orang telah ditinggalkan oleh Tuhan. Ia menunjukkan kualitas eksistensi manusia sebagai paradoks mengerikan yakni orang yang telah dijadikan Tuhan ditinggalkan oleh yang lebih Tuhan. Bertempur dengan Cacing, membuatku berpikir tentang ‘White Knights.’ Aku…” kata-kata Katak mulai terdengar lamat-lamat. “Pak Katagiri, apa kau keberatan kalau aku berbaring sebentar? Aku sangat lelah.”

“Silakan,” Kata Katagiri. “Tidurlah yang nyenak.”

“Aku akhirnya tak mengalahkan Cacing,” kata Katak, menutup mata. “Aku menghentikan gempa bumi, tapi aku hanya mampu membuat perang kita berakhir impas. Aku melukainya, dan juga ia. Tapi sebenarnya, Pak Katagiri…”

“Ya, Katak?”

“Aku sebenarnya, Katak sungguhan, tapi pada waktu yang sama aku adalah sesuatu dalam dunia bukan-Katak,”

“Hmm, aku tak mengerti.”

“Aku pun,” Katak berkata, matanya masih tertutup. “Itu hanya perasaanku. Apa yang kau lihat belum tentu yang sebenarnya. Musuhku adalah, selain banyak hal, adalah aku dalam diriku. Di dalam aku yang bukan-aku. Otakku suram. Lokomotifku tiba. Tapi aku ingin kau mengerti apa yang kukatakan, Pak Katagiri.”

“Kau lelah, Katak. Tidurlah. Kau akan membaik.”

“Aku perlahan kembali pada kegelapan, Pak Katagiri. Lalu.. aku..”

Katak kehilangan kata-kata dan jatuh koma. Lengannya mengantung hampir mencapai lantai, dan mulut lebarnya terbuka. Memaksa memfokuskan matanya, Katagiri melihat lekuk tubuh Katak. Guratan di kulitnya menghitam, sebuah titik cekung pada kepalanya tercabik keluar.

Katagiri memandang lama pada Katak, yang tadi duduk dan sekarang berselubung tidur. Secepatnya aku keluar dari rumah sakit, aku akan membeli Anna Karenina dan “White Nights” dan membacanya. Kemudian aku akan diskusi panjang dengan Katak.

Tak terlalu lama, Katak mulai bergetar. Katagiri pada awalnya mengira itu sebuah gerakan normal dalam tidur, tapi ia segera menyadari kesalahannya. Ada sesuatu yang tidak biasa dengan gerakan tubuh Katak, seperti boneka yang diguncang-guncangkan dari belakang. Katagiri menahan napas terus memperhatikan. Ia ingin berlari meghampiri Katak, tapi tubuhnya terasa lumpuh.

Setelah beberapa sesaat, semacam lumpur memenuhi mata Katak. Selain itu, juga muncul yang gelembung di balik bahu Katak dan memenuhi seluruh tubuhnya. Katagiri tidak dapat membayangkan apa yang terjadi pada Katak. Ia melihat kejadian luar biasa itu dan bernapas perlahan-lahan.

Setelah seluruh kejadian tiba-tiba itu, salah satu gelembung meletus keras. Kulitnya melayang dan cairan lengket merembes, menghasilkan bau busuk di seluruh ruangan. Sisa gelembung-gelembung mulai meletus satu per satu, sekitar dua atau tigapuluh, melontarkan kulit dan cairan ke dinding. Bau yang tak tertahankan memenuhi ruang rawat. Sebuah lubang hitam besar tertinggal pada tubuh Katak saat gelembung-gelembung itu meletus dan di sana menggeliat belatung-belatung seperti cacing dalam berbagai ukuran mulai merangkak keluar. Belatung putih gendut. Setelahnya muncul kakiseribu kecil-kecil, berderik. Seolah tak habis-habisnya mereka keluar dari lubang. Tubuh Katak—atau yang dulunya tubuh Katak—sepenuhnya tertutup makhluk-makhluk ini. Dua bola matanya yang besar jatuh ke lantai, dimakan oleh serangga hitam bermulut kuat. Gerombolan cacing berlomba-lomba menuju langit-langit dinding, mereka memenuhi lampu dan terbenam di alarm asap.

Lantai juga dipenuhi para bangsa cacing dan serangga. Mereka memanjati lampu dan menghalau cahaya, dan tentu saja, merayap ke tempat tidur Katagiri. Ratusan jumlah mereka menyelinap masuk selimut. Merangkak ke tungkai, di bawah kain, di antara pahanya. Cacing-cacing terkecil dan belatung-belatung masuk anus dan telinga dan lubang hidung. Kaki seribu membuka mulutnya dan merayap masuk satu per satu. Dikerubuti secara mengerikan, Katagiri berteriak.

Seseorang tiba-tiba menyalakan lampu kamar.

“Tuan Katagiri!” panggil perawat. Katagiri membuka mata melihat lampu. Tubuhnya banjir keringat. Seluruh serangga hilang. Mereka meninggalkannnya dalam kengerian, terasa berlendir.

“Mimpu buruk lagikah? Kasihan.” Dengan gerakan efisien, perawat menyiapkan suntikan dan menusuk jarum ke lengannya. Ia bernapas dalam-dalam. Jantungnya mengembang dan berdebar keras.

“Anda mimpi apa?”

Katagiri kesulitan membedakan mimpi dari kenyataan. “Apa yang kau lihat dengan matamu belum tentu kenyataan,” ia berkata pada dirinya dengan suara keras.

“Itu sangat benar,” kata perawat dengan senyum. “Terutama soal mimpi-mimpi.”

“Katak,” gumamnya.

“Apakah sesuatu terjadi pada Katak?” Tanya perawat.

“Ia menyelamatkan Tokyo dari kehancuran gempa bumi. Ia sendiri yang melakukannya.”

“Bagus,” perawat berkata, mengganti botol infus kosong dengan yang baru. “Kami tak butuh lagi hal-hal mengerikan terjadi di Tokyo. Sudah cukup.”

“Tapi harga yang harus dibayar adalah dirinya. Ia pergi. Kurasa ia kembali ke kegelapan. Ia tak akan kembali lagi.”

Tersenyum, perawat mengeringkan keringat di keningnya. “Anda sangat tergila-gila pada Katak ya, Tuan Katagiri?”

“Lokomotif,” Katagiri bergumam. “Lebih dari siapapun.” Lalu ia menutup mata dan tenggelam pada tidur nyenyak tanpa mimpi.

*karya Haruki Murakami, diterjemahkan dari versi Inggris terjemahan Jay Rubin

Iklan