: Bagian Pertama

Saya mengambil keputusan untuk mencicil rumah saat usia 27. Tepatnya setelah hubungan dengan orang yang saya kira adalah kekasih terakhir saya kandas. Kalimat hantu saya waktu itu, “Ya ampun, umur segini masih putus cinta aja.” Dulu, sewaktu remaja saya menghitung-hitung usia dan membayangkan akan menikah saat 28 tahun. Dulu juga, saya berpikir akan membeli rumah setelah menikah. Saya berpikir tentang indahnya perjuangan dan kebahagiaan yang dijalani bersama pasangan. Dulu juga, saya terlalu menghitung jika saya punya rumah lebih dulu akankah saya tega membiarkan suami saya masuk rumah hanya membawa ransel berisi pakaian. Bukan, saya bukan penganut patriarkis. Saya hanya sadar bahwa masyarakat yang patriarkis mungkin tidak siap dengan kondisi-kondisi semacam itu. Dan saya tidak tega suami saya dipandang sebelah mata oleh tetangga, saudara jauh, atau apalah siapalah.

Di lain sisi, saya sadar betul, hidup saya selamat karena orang tua saya mempunyai rumah. Saya berasal dari keluarga menengah ke bawah. Pada keluarga jenis ini, jika salah satu anggotanya sakit berat, tidak ada jalan lain selain hutang, lalu menjual aset untuk biaya pengobatan. Tak ada deposito, tak ada aset yang berlebihan: mobil kijang satu dan rumah satu. Dan itulah yang terjadi. Kedua orang tua saya menikah dan melahirkan saya dalam usia yang sangat tua. Saya lahir saat usia ayah saya 57 tahun dan ibu saya 40 tahun, lewat masa produktif. Selain itu, ayah saya mengisi masa produktifnya dengan menjadi pejuang kemerdekaan, mahasiswa doktoral, tahanan politik, serta bekerja-menganggur-bekerja-menganggur. Menjelang lulus SMA, ayah saya sakit dan dalam kondisi tidak akan sembuh lagi: kanker prostat, pengapuran, terbaring berbulan-bulan, dan belakangan kehilangan kesadaran. Ia berhenti pada usia 75 tahun. Ibu saya kala itu pensiunan. Kepala seksi, jabatan terakhirnya. Satu tingkat saja di atas staf. Masa itu pelik. Saya mesti kuliah kalau mau normal. Kalau berani tidak normal, saya cuma punya pilihan kerja dengan modal ijasah SMA. Bukan bekerja pada perusahaan bapak.

Ibu saya kemudian menjual rumah, menyisihkan biaya kuliah saya untuk lima tahun dan membeli lagi rumah yang lebih murah. Saya ingat, suatu malam saya duduk bersama dengan ibu saya dan catatan-catatan keuangannya. Ia menganggarkan 900.000/bulan selama 5 tahun untuk saya kuliah. Angka itu ia dapat dari komposisi berbagai biaya buku, ada uang hiburan, uang makan, dan transportasi yang layak bagi mahasiswa. “Jatah kamu cuma 5 tahun, lewat dari itu pulang.” Rumahnya pada saat itu berluas 180 meter persegi, di daerah bintaro, dan pada 2003 laku dengan harga 298 juta. Rumah yang ia beli selanjutnya adalah rumah yang ia tinggali saat ini, berjarak 16 kilometer keluar dari Jakarta ke Tangerang Selatan, luas tanah 109 meter persegi, dengan harga 140an juta (117 juta + pajak + notaris). Pelajaran 1: jangan menjual aset untuk konsumsi, tapi juallah aset untuk dibelikan aset lainnya—pendidikan termasuk di dalamnya. Singkatnya, Aset itu penting.

Kembali ke usia 27, pertanyaan hantu berikutnya: beli rumah dulu atau menikah dulu? Tidak ada jawaban yang paling benar atas pertanyaan ini. Rumusnya cuma tidak berhenti berjalan alias move on dan lakukan yang bisa dilakukan. Maka saat itu saya mulai memantapkan hati mencari rumah. Saya mulai tanya-tanya pada teman kantor yang sudah mulai mencicil rumah, meminta bocoran skema keuangan yang ia jalani, menghitung kekuatan dengan kawan yang memiliki penghasilan kurang lebih sama. Sebelum rencana mencari rumah ini begitu serius, cita-cita saja adalah mendapat keberuntungan semacam membeli rumah petakan orang betawi yang letaknya di Jakarta. Daya tahan saya terhadap lalu lintas kota yang padat sangat lemah. Sejak lulus kuliah, saya selalu kos dekat kantor. Saya selalu mau jarak yang dekat antara tempat tinggal dan tempat kerja. Tapi bagaimana mencari sebuah keberuntungan? Keberuntungan bukan hal yang bisa dipreteli langkah-langkahnya. Keberuntungan ya keberuntungan saja. maka, khayalan itu saya tinggalkan. Saya membagi Jakarta menjadi tiga bagian: pusat ke Bekasi, pusat ke Serpong, dan pusat ke Depok. pembagian itu saya simpulkan dari jalur kereta. Bagi saya, separah-parahnya kereta, transportasi paling masuk akal cuma itu. saya tidak menghitung jalur transjakarta sebagai pertimbangan apalagi jalur tol. Saya tipe penumpang, bukan pengemudi. Maka, saya menghindari daerah pinggir Jakarta Barat, Cibubur atau pinggir Jakarta Timur lainnya sebagai sasaran lokasi rumah. Akhirnya saya memilih Depok, pertimbangannya: pada saat itu ada 2 trayek kereta yang melintas dari Bogor ke Jakarta: Jakarta Kota dan Tanah Abang, berbeda dengan Bekasi yang hanya Jakarta Kota dan Serpong yang hanya Tanah Abang. Sekarang Depok punya 3 trayek kereta, satu lagi dari Nambo.

Berhubung saya orang yang kurang mobile, saya tidak membayangkan saya datang dari satu perumahan ke perumahan lain untuk membandingkan harga. Untuk hal yang satu ini jangan ditiru. Ini pilihan orang pemalas dan tak berenergi. Lokasi perumahan yang saya datangi hanya satu, ya rumah saya sekarang ini. Sisanya saya hanya browsing, melihat spesifikasi dari brosur dan tanya-tanya kawan tanpa mengunjunginya. Perumahan yang saya pilih akhirnya, saya peroleh informasinya dari seorang kawan kantor yang dengan senang hati saya tanya-tanya. Terima kasih banyak, Giry! Ia sudah lebih dulu setahun mengambil cicilan rumah di sana. Ia menceritakan semua: bagaimana ia akhirnya memilih perumahan itu, perumahan sekitar yang ia kunjungi, perbedaanya dengan perumahan itu, skemanya, spesifikasinya, prosesnya, kesannya tinggal di sana, serta keluhannya. Selain itu, dia juga kawan diskusi saya dalam menghitung kemampuan dan kemungkinan yang saya punya jika saya mengambil rumah di tempat ia tinggal.

PR terbesar saat berkomitmen mencicil rumah adalah DP. Cicilan per bulan relatif mudah dibayangkan dengan melihat penghasilan rata-rata yang kita miliki. Kondisi saya saat itu: saya PNS, 3 tahun bekerja, dengan tabungan kurang dari 20 juta. Memikirkan DP itu mengerikan. Hambatan banyak orang yang mampu secara finansial per bulan dalam mencicil rumah adalah menyediakan uang sangat banyak untuk dibayarkan sebagai DP. Siasat. Ini jalan yang saya tempuh, agak nekat dan mengerikan, tapi mungkin bisa ditiru atau setidaknya menginspirasi untuk dimodifikasi. Alternatif uang besar buat saya cuma mengajukan pinjaman dengan jaminan SK PNS. Tidak ada bantuan orang tua, mertua, saham, tabungan atau aset lainnya. Tidak ada. Skema pinjaman ini, cicilannya akan dipotong otomatis setiap bulan. Dampaknya profil keuangan saya pada bank akan menurun. BI akan merekam saya telah memiliki pinjaman dan mungkin berpengaruh pada persetujuan bank yang saya ajukan KPR. Harga rumah sasaran saya pada 2012 jika dibeli secara cash adalah 399.500.000. Jika dibeli melalui KPR syariah, dengan DP 110 juta, cicilan 10 tahun per bulan 3,4 juta/bulan untuk 2 tahun pertama, lalu 3,9 juta/bulan untuk tahun ke 3 hingga 10. Total biaya yang keluar (tanpa pajak, notaris, surat Hak Milik) dengan skema cicilan ini 566 juta. Bunga sekitar 166.500.000 dibandingkan jika beli cash. Rugi? Mungkin. Tapi cuma ini yang bisa. Hari ini, perumahan saya mengiklankan harga rumah mereka mulai dari 580 juta. Untung? Mungkin. Tapi buat saya tidak sekarang. Oh ya, sistem syariah untuk KPR selalu saya rekomendasikan pada semua kawan yang tanya soal rumah karena kelebihannya ada pada bunga yang flat. Rusak pun ekonomi sebuah negara dan melambungnya suku bunga perbankan, cicilanmu tetap pada angka yang sama hingga akhir. Selain itu sistem syariah juga memungkinkan diskon tertentu jika kita melunasi cicilan lebih awal. Untuk pilihan ini, saya berterima kasih pada Neta.

Sekarang soal jalan yang nekat dan mengerikan. Saya punya 2 cicilan yaitu DP dan KPR sisanya. Lagi-lagi cuma itu yang saya bisa. Siasat yang saya tadi saya mau ceritakan adalah: saya mengajukan KPR dengan skema DP 110 juta tadi (tanpa saya punya uang itu karena pada saat itu saya belum mengajukan pinjaman dengan jaminan SK PNS demi profil keuangan saya yang baik). Selang seminggu, saya baru ajukan pinjaman untuk DP. Akhirnya, bank KPR saya menyetujui, lalu berselang seminggu bank untuk DP saya menyetujui. Proses ini jangan dibalik. Karena Bank DP akan menyetujui, tapi bank KPR tidak karena dia sudah membaca data terbaru dan menilai kita tidak bankable. Pasti macet menurut hitungan mereka.

Beberapa hari ini saya sedang ikut diklat penjenjangan auditor muda, salah satu mata ajarnya adalah manajemen risiko dan sumber daya organisasi. Pengajarnya kemarin menjelaskan bahwa pilihan perencanaan pembangunan harus selalu didasari dengan data sumber daya yang kita miliki. Jika tidak, pilihan-pilihan agresif akan menghasilkan pragmatisme perencanaan. Pragmatisme ini akan menyebabkan pergeseran prioritas untuk mempercepat pencapaian. Biasanya percepatan yang dikejar lebih dulu adalah percepatan infrastruktur, sementara pembangunan non fisik akan diturunkan prioritasnya. Seketika teringat jargon kerja-kerja-kerja, uh? Ya, dan itu yang terjadi di saya dalam hal rumah. Saya menyadari pilihan saya kemarin adalah pilihan agresif, efeknya saya memprioritaskan mencari uang ketimbang bertamasya. Saya jungkir balik kerja hingga kekurangan jam tidur. Tapi saya ingat kalimat ibu saya setelah kami jumpa setelah saya akad kredit, “punya rumah itu memang harus nekat”.

Iklan