: Bagian Kedua

Saya yakin pilihan setiap orang tentang tempat tinggal mungkin saja berbeda-beda. Pilihan mencicil atau membeli tunai rumah, melakukannya sekarang atau nanti, rumah dengan tanah atau apartemen, menyewa atau membeli, bahkan mau atau tidak mau menumpang pada orang tua/mertua/saudara. Sekali lagi tidak ada jawaban yang paling benar di antara semua itu.

Seperti bagian pertama, tulisan ini akan mengkombinasikan kisah tentang pilihan saya dengan kisah bapak dan ibu yang menjadi pembanding. Begini kisah mereka: saat bapak dan ibu saya menikah, mereka tak langsung mempunyai dan menempati rumah mereka sendiri. Mereka bahkan baru mencicil rumah sembilan tahun kemudian—dua tahun sebelum saya lahir. Pada awal pernikahan hingga beberapa tahun setelah kelahiran anak pertama, mereka tinggal di Magelang, Ambon dan Jakarta. Saya sendiri lahir dan tinggal tidak di rumah yang mereka cicil. Kami menumpang tinggal di rumah saudara sepupu ibu saya. Keluarga sepupu ibu saya saat itu tinggal di Irian Jaya, Palembang lalu Semarang, sementara eyang—ibunya sepupu ibu saya tidak ikut. Jadi, terjadi simbiosis mutalisme dalam urusan numpang ini: keluarga ibu saya dapat tempat tinggal gratis di daerah Cipete, keluarga mereka dapat ketenangan karena eyang dijaga oleh ibu saya. Ibu saya yang bertugas mengantar eyang ke rumah sakit dengan taksi, mengantri membayar listrik dan telepon di kantor pos, hingga mengambilkan pensiun eyang dan mengelola urusan domestik seperti menu makanan dan mengatur pembantu.

Selang beberapa tahun, saat keluarga sepupu ibu saya kembali berbasis di Jakarta, barulah kami pindah. Ke rumah yang dicicil tadi? Tidak. Ayah dan ibu saya memilih mengontrak di daerah Warung Buncit, dengan pertimbangan lebih dekat dengan kantor ibu saya di Kebayoran Baru. Rumah yang dicicil ada di Ciputat. Satu atau dua tahun tinggal di situ, kami pindah kontrakan ke daerah Bintaro Jaya. Selama itu, rumah Ciputat kadang idle, kadang jadi tumpangan sementara keluarga/kerabat jauh.

Saat kontrak di daerah Bintaro Jaya, ibu saya memilih rumah yang dekat dengan sekolah. Itu kriteria penting bagi mereka. TK nol kecil saya berjarak sekitar 500 meter dari rumah. Salah satu nilai hidup yang penting bagi bapak saya adalah keamanan: saya bahkan tidak perlu menyeberang, cukup menyusuri jalan, untuk tiba di sekolah. Saat saya TK nol besar, kami pindah lagi, ke Bintaro Permai. Ibu saya mendaftarkan saya ke sekolah kristen yang berada di dalam komplek rumah itu. Pada sekolah itu, terdapat layanan pendidikan hingga tingkat SMP. Belakangan saya baru tahu, itu adalah rumah kami. Bukan mengontrak. Dan sepertinya pilihan rumah diambil dengan pertimbangan adanya sekolah. Rumah Bintaro Permai mereka peroleh dengan mencicil selama 7 tahun. Sebelumnya, mereka menjual rumah Ciputat dan menjadikannya DP untuk pengajuan KPR rumah Bintaro Permai (bayangkan, sebuah rumah cuma bisa jadi  DP rumah yang lain!)

Pelajaran 2: tempat tinggal yang tepat pada suatu waktu mungkin saja bukan rumahmu sendiri dan rumah pertamamu bisa jadi bukan rumah terakhirmu.

Sekarang soal pilihan rumah. Sebelum membuat keputusan, saya berusaha mengenali diri saya: 1. Saya mau rumah yang bisa langsung ditinggali karena saya mau berhenti kos kalau sudah mulai cicil rumah. Saya nggak sanggup merencanakan dan ngawasin tukang untuk renovasi, bangun-bangun tembok dan semacamnya (batas saya cuma tralis, pintu, dan sedikit canopy); 2. Saya mau rumah yang hanya punya satu gerbang kompleks. Saya akan sering meninggalkan rumah karena penugasan kantor, jadi saya nggak mau mikir soal maling; 3. Saya mau rumah yang cuma perlu naik satu kali angkot ke stasiun dan saya nggak mau stasiun yang lebih jauh dari Stasiun Depok Lama. Pertimbangan ini ada karena saya mau memperbesar peluang kereta yang bisa saya naiki. Kalau rumah dekat Stasiun Citayam misalnya, saya cuma bisa nunggu kereta dari Bogor. Sementara kalau Stasiun Depok Lama, saya bisa naik kereta dari Bogor atau yang keberangkatan dari Depok Lama. Beberapa hari lalu saya naik uber, supirnya tanya-tanya harga rumah di kompleks. Lalu kami ngobrol, dia bercerita bahwa rumahnya saat ini ada di daerah Bojong Gede. “Kalau bisa pindah rumah di daerah dekat sini, lumayan Mbak, istri saya bisa dapat kereta balik dari Stasiun Depok. Kalau sekarang kan cuma nunggu dari Bogor aja,” katanya. See? Geser beberapa centimeter di peta aja bisa beda keuntungannya.

Setelah beberapa tahun tinggal di rumah sendiri, mengamati pilihan-pilihan kawan lain, dan membandingkannya dengan pilihan saya kemarin, saya menarik simpulan: Rumah saya tergolong sempit (LB/LT 47/72). Ini jenis rumah yang pas untuk perempuan lajang, pasangan baru menikah, atau keluarga kecil dengan anak satu dan kalau bisa pembantu yang pulang hari. Lebih dari itu anggotanya, perlu menambah tingkat dua. Sebaliknya, lebih dari itu luasannya, perlu menambah anggotanya haha. Mencabuti rumput liar, biarpun kegiatan sebulan sekali kadang dengan lelah juga saya selesaikan. Jika saja mau rumah dengan tembok batako atau hubble, single, dan rangka kayu, dengan harga yang sama saya mungkin akan mendapat rumah yang lebih luas. Tapi saya lebih merasa aman dengan dinding bata merah, double dan rangka baja ringan. Saya membuat keputusan ini seorang diri tanpa suami, jadi saya nggak sanggup kalau membayangkan terjadi sesuatu dengan rumah dan saya mesti berurusan dengan tukang-tukang seorang diri. Pada akhirnya, saya mencintai dan bertanggung jawab atas setiap pilihan-pilihan yang sudah saya timbang sebelumnya, seperti pada anak sendiri.

Iklan