webanner-blogger-new-corp-web

tapi.. ini amit-amit ya, Bu..

Setelah menanyakan beberapa pertanyaan profil pada kita seperti: berusia berapa, sudah menikah atau belum, bekerja di sektor apa dan semacamnya, kalimat amit-amit itu serupa mantra bagi agen asuransi. Maksudnya sih, baik. Ia ingin menyadarkan pendengarnya tentang kemungkinan, khususnya kemungkinan akan risiko. Namun kadang mereka suka nggak kira-kira sih dalam menawarkan produk. Saya pernah memukul mundur seorang agen yang menelepon dan nyerocos tak henti-henti sambil melontarkan kalimat amit-amit itu dengan mengatakan, “wah Mbak, kalau saya beli semua asuransi, nanti saya tak butuh lagi berdoa dong.”

Perluasan pasar produk jasa keuangan asuransi seringnya berpromosi dengan menjual ketakutan, alih-alih menjadi kawan diskusi tentang kebutuhan calon konsumennya. Tak jarang juga mereka mengiming-imingi dana kembali yang besarnya hingga ratusan juta—kendati terjadinya puluhan tahun mendatang. Atau, biasanya para agen itu menyasar terlebih dahulu keluarga dan saudara-saudara mereka dalam memprospek konsumen. Tanpa penjelasan selain ketakutan dan iming-iming duit gede.

Saya sendiri pernah membatalkan asuransi unit link yang sudah saya jalani selama dua tahun karena ternyata menurut saya produk itu tidak cocok dengan kebutuhan. Pada saat saya salaman perjanjian mengambil asuransi itu, kebutuhan saya adalah menabung. Saya tipikal manusia yang pegang duit berapapun akan cukup. Alias tidak lebih, seberapapun banyaknya. Haha. Saya ingin sekali bisa menabung, dan saya mau kapanpun tabungan itu diperlukan saya tak kesulitan mengambil. Saya cuma perlu kontrol yang berasal dari luar diri dan mengharuskan saya menyisihkan uang. Maka, sebenarnya justru lebih masuk akal saya meletakkan uang saya pada produk tabungan berjangka atau deposito, ketimbang asuransi. Sayangnya saya perlu waktu dua tahun menyadari hal itu. Asuransi unit link itu saya ambil karena suami sepupu suatu hari datang ke rumah dan berbicara panjang lebar yang intinya menawarkan asuransi. Yang ia jelaskan cuma satu produk itu. Dan apapun yang saya jelaskan tentang rendahnya kemampuan menabung saya dan kebutuhan saya menyimpan uang, solusi menurutnya ya cuma produk itu.

Cara kerja produk asuransi sebenarnya masuk akal. Bayangkan saja sebuah arisan pada komunitas besar bernama masyarakat. Aturan main jelas, duit yang disetor, jangka waktu dan duit yang kembali atau manfaat yang akan diperoleh dalam syarat dan kondisi yang berlaku. Bedanya kalau arisan, uang yang terkumpul ditumpuk di bendahara, sementara pada asuransi uang itu diputar lagi agar mengikuti nilai zamannya. Masa waktu arisan ibu-ibu berbeda dengan masa waktu industri asuransi. Masalahnya, apakah setiap calon konsumen telah mengetahui betul-betul kebutuhannya dan setiap agen asuransi telah mengetahui betul-betul produknya—selain menebarkan ketakutan?

Selain pernah membatalkan sebuah produk asuransi, saya juga pernah mencari sendiri produk asuransi yang saya butuhkan bahkan tanpa ditawari siapapun sebelumnya. Saya bergerak sendiri tanpa kalimat mantra amit-amit dari orang lain dan memilih produk asuransi jiwa murni. Pola pikir yang digunakan dalam industri jasa proteksi ini adalah perlunya manajemen risiko dalam hidup kita. Risiko sebagai sesuatu yang kita identifikasi, kita hitung asal faktornya, kemungkinannya, dampaknya, serta kemampuan mengurangi dampak. Lalu dibenturkan apakah produk yang akan kita ambil masuk akal untuk dijalani dan menjawab risiko yang sudah kita identifikasi.

15027397_1254085847970581_832832178482548019_n

Sebagai warga biasa, saya cukupkan diri saya dengan produk asuransi sosial BPJS, lalu saya sudah tak asing lagi dengan produk deposito atau tabungan berjangka untuk menyimpan uang receh. Selain itu, saya juga sudah memerangkap uang dalam aset berupa rumah yang saya cicil setiap bulan. Skema pembiayaan melalui kredit rumah otomatis memproteksi risiko kebakaran. Berbagai produk itu saya ambil untuk menjawab kebutuhan saya. Namun setelah beberapa tahun bekerja, saya menyadari ibu saya makin menua pula. Setiap dia ulang tahun, doa utama saya: agar saya panjang umur. Saya membayangkan perempuan usia tujuh puluh-an tahun itu tentu akan kebingungan kalau mendadak saya yang mati duluan. Kemungkinan inilah yang mendasari gerak saya selanjutnya dalam mencari produk asuransi jiwa murni. Produk ini hanya akan bermanfaat kalau saya meninggal. Tanpa iming-iming bahwa pada suatu tahun saya akan mendapat duit gede hasil investasi. Buat saya, kalau mau duit gede mendingan belajar reksa dana atau forex plus ekonomi makro. Asuransi jiwa murni relatif jauh lebih murah preminya. Dan lagi-lagi sesuai dengan kebutuhan saya. Smile Personal Accident, alternatifnya. Masa asuransinya satu tahun dan dapat diperpanjang setiap tahun hingga tertanggung berusia 60 tahun. Ilustrasi lengkap dapat disimak pada website Sinar Mas. Begitulah cara saya mengatur sumber daya yang ada. Bagaimana dengan Anda?

Iklan