Cari

senja hampir habis

menyeduh tanpa mendidih. berbekal kemurahan hati matahari

Berkarya Tanpa Dendam*

04

Malam, 13 Oktober 1965. sebuah rumah di kawasan Rawamangun, Jakarta dilempari dengan batu oleh segerombolan orang.

“Mau diapakan rumah saya?”  Pramoedya Ananta Toer, penghuni rumah itu keluar. “Kalau mau bicara sama saya, ayo bicara. Bukan begini caranya.” Continue reading “Berkarya Tanpa Dendam*”

Kabar

KABAR—usai kebaktian, seorang kawannya menghampiri. Menyapa sembari memarahi karena ketidakhadirannya pada sebuah momen penting di minggu lalu. Jenderal bintang sembilan meninggal. Namun menurut si kawan, ia tak bisa dihubungi. Telepon tidak nyambung. Kirim pesan pun tidak bisa. Ia mendengar sambil diam. Tetapi sorot matanya terkejut. Lalu, tanyanya, apakah jenderal sudah dimakamkan? Si kawan menjawab, “Tentu saja, meninggalnya kan minggu lalu!” Continue reading “Kabar”

; [titik koma]

20160112_144458-1

akhir minggu kemarin saya menghabiskan tiga film: Spring, Summer, Fall, Winter… and Spring; The Journey dan The Intern. Ketiganya, entah bagaimana, mencetuskan kalimat dalam benak bahwa kadang dalam hidup, kita cuma butuh seorang kakek yang diam saja. mendengar dan melihat. di ujung yang kita sadari. untuk sekadar menjadi orang lain. cuma untuk meyakinkan kita pada situasi buruk sekalipun, masih ada sebuah kehidupan yang layak kita pelihara.

hidup yang terlalu buruk kadang membuat kita ingin pergi saja.

tapi Tony Bennet bilang, “Life teaches you how to live it, if you live long enough”

Jam Ngopi

kopi dan sepotong donat

Pada sebuah perjumpaan dengan kawan baik, pada sebuah meja,  aku mendengar Peggy bertanya, “Donat apa? Biasa, cokelat atau macaroon?”* sementara di sisi sebelah sana seorang pria berteriak minta secangkir kopi lagi dan donat macaroon lagi. juga yang di belakang sini. juga di kiri. juga. juga. dan juga. berikut sendok logam berdentingan dengan keramik.

hiruk.

*Umar Kayam dalam “Secangkir Kopi dan Sepotong Donat”

hidup itu yang penting bisa dimakan

sebenarnya, saya tak pandai memasak. saya menghindari mengurus daging ikan. selalu rikuh rasanya tiap memegang kepala ikan. takut dia tersinggung. saya juga tak biasa masak menu bersantan. semacam repot. tapi senang juga jika ada waktu, makan masakan sendiri. Continue reading “hidup itu yang penting bisa dimakan”

Blog di WordPress.com.

Atas ↑